Efek Blog

Rabu, 16 Maret 2016

pengertian wpap

WPAP merupakan singkatan dari Wedha's Pop Art Potrait adalah gaya seni pop art yang dipopulerkan oleh Wedha Abdul Rasyid yang sekaligus pembuat aliran ini. WPAP dahulu bernama FMB ( Foto Marak Berkotak ). Secara teknik, WPAP mempunyai ciri khas tertentu dalam penggambaran objek, dimana dalam WPAP anda akan menemukan bidang berkotak-kotak dan penuh dengan warna-warni antar bidang tanpa menghilangkan karakter objek atau model yang digambar. Dalam WPAP anda pasti tidak akan menemukan bidang-bidang lengkung sebab itulah WPAP mempunyai ciri khas tertentu yang membuat WPAP mempunyai keunikan tersendiri dalam segi teknik pembuatan.
Sejarah Singkat WPAP


Dimulai sekitar tahun 1990-1991 berawal dari kegelisahan menggambar sosok manusia yang realis karena seiring bertambahnya usia. Menurut Wedha, gambar sosok manusia realis mempunyai tingkat kesulitan paling tinggi di tambah dengan faktor memilih, mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Kemiripan warna kulit manusia, kehalusan goresan, menjadi sesuatu yang mahal bagi Wedha. 

Dari kegelisahaan itulah, Wedha mulai memikirkan cara melukis sosok manusia dengan cara yang lebih mudah dengan mengutak atik titik, garis dan bidang. Berawal dari situ mulailah Wedha membayangkan gambar sosok manusia sebagai kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner.
Sebelum menemukan cara membuat seperti sekarang ini dimana teknologi sangat membantu mempermudah dalam pembuatan WPAP Wedha harus melalui proses yang begitu panjang dari membuat WPAP dengan manual sampai ke digital pada era sekarang ini.

Berikut ini adalah proses WPAP yang dilalui pak Wedha Abdul Rasyid Dari Masa Ke masa

Sejarah WPAP 1
sejarah WPAP 2
Sejarah WPAP 3












Sejarah WPAP 4

Demikianlah sedikit tentang apa itu wpap dan sejarah singkat wpap yang dirujuk dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat

kisah singkat hasan al bana


Sejarah mencatat dengan tintas emas seorang Guru mujahid (pejuang) dan mujtahid (pembaharu) yang bernama Imam Syahid Hasan Al-Banna. Beliau awalnya sebagai seorang guru madrasah di kampung halamannya di Negara Mesir namun pemikiran dan keshalihannya bisa membangkitkan umat dari kelelapan tidur yang panjang menuju cahaya Islam yang terang benderang. Semua ini, diawali dengan program pendidikan yang terarah dan berkesinambungan dengan pendekatan nurani. Hasilnya, murid dan pengikutnya tersebar di seluruh dunia dan Imam Syahid Hasan Al-Banna dijadikan sebagai simbol kebangkitan Islam dunia.
Riwayat Kelahiran Imam Hasan Al-Banna
Imam Hassan Al Banna lahir pada Oktober 1906 di desa al Mahmudiya yang terletak di daerah Al Buhairah, Iskandariah, Mesir. Beliau berasal dari sebuah keluarga Ulama yang dihormati dan terkenal karena begitu kuat menaati ajaran dan nilai-nilai Islam. Mujahid Islam ini dibesarkan dalam suasana keluarga yang Islami dan hidupnya sangat sederhana. Sejak kecil Hasan Al-Banna dididik dalam rumah tangga yang mementingkan pengembangan daya pikiran dan ilmu pengetahuaan. Budaya membaca merupakan suatu hal yang dikembangkan ayah Al-Banna sehingga di rumahnya terdapat perpustakaan yang lengkap berisi buku-buku berkualitas para ulama-ulama besar dan pemikir-pemikir Islam sebelumnya.
Hassan Al Banna merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, Syeikh Ahmad ibn Abd al Rahman al-Banna adalah seorang ulama, imam, guru dan pengarang beberapa buah kitab hadis dan fiqih perundangan Islam, tamatan dari Universiti Al Azhar Mesir. Beliau dikenal sebagai seorang yang bersopan santun, pemurah, rendah hati dan tingkah laku yang menarik. Ayah Hasan Al-Banna bekerja sebagai tukang jam di desa al Mahmudiyah, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selebihnya ia gunakan untuk mengkaji, mendalami dan mengajar ilmu-ilmu agama seperti tafsir al Quran dan hadis kepada penduduk di daerahnya.
Pendidikan Hasan Al-Banna
Sejak dini Hasan Al-Banna sudah ditempa oleh keluarganya yang taat beragama untuk meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu. Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah Ar Rasyad, kemudian melanjutkan di Madrasah ‘Idadiyah di kota Mahmudiyah tempat beliau dilahirkan.
Pada usianya yang masih muda, Hasan Al-Banna sudah memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan pendidikan dan dakwah. Beliaupun mampu beraktivitas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bersama teman-temannya di sekolah, dibentuklah perkumpulan “Akhlaq Adabiyah” dan “Al-Man’il Muharramat”. Melalui perkumpulan inilah beliau menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan. Kelihatannya memang sejak muda Hasan Al-Banna menginginkan sangat dakwah Islamiyah tegak dan kokoh di persada negeri Mesir.
Pada tahun 1920 Hasan Al-Banna melanjutkan pendidikannya di Darul Mu’allimin Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Al-Quran diusianya yang belum genap 14 tahun. Beliaupun aktif dalam pergerakan melawan penjajah. Pada tahun 1923 beliau melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo. Di sinilah Hasan Al-Banna banyak mendapatkan wawasan yang luas dan mendalam. Pendidikannya di Darul Ulum diselesaikan pada tahun 1927 M, dengan hasil yang sangat memuaskan. Luar biasa, beliau menduduki rangking pertama di Darul Ulum dan rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.
Semenjak di Darul Ulum Kairo, Hasan Al-Banna mendapatkan cakrawala berfikir lebih luas dan wawasan yang mendalam dan semakin giat dalam amal Islami. Bersama kawan-kawannya beliau melaksanakan dakwah di berbagai tempat, di masjid, di perkumpulan-perkumpulan, kedai kopi ataupun di club-club bahkan juga berdakwah di pasar atau tempat keramaian.
Hasan Al-Banna Sebagai Seorang Guru
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Kairo, Hasan Al-Banna bekerja sebagai guru Ibtidaiyah (setingkat SD) di Ismailiyah. Meskipun mendapatkan penawaran untuk melanjutkan pendidikan, namun beliau lebih menyenangi menjadi guru di Ismailiyah hingga 19 tahun beliau berkhidmat mengajar di sana.
Sebagai guru SD (Ibtidaiyah), beliau disiplin dalam melaksanakan tugasnya. Dengan tanggung jawab penuh dan usaha maksimal, beliau mengajar dan mendidik muridnya. Hasan Al-Banna belum pernah terlambat datang ke sekolah (tempat kerja) karena beliau menyadari bahwa dirinyalah berperan sebagai guru yang harus memberikan keteladanan. Melaksanakan tugas dengan tulus ikhlas hingga beliau merasakan sebuah kenikmatan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Hasan Al-Banna meyakini bahwa Allah telah menciptakannya diri menjadi seorang guru atau pendidik dalam melahirkan generasi yang tangguh untuk kebangkitan Islam.
Hasan Al-Banna disenangi dan dihormati oleh murid-muridnya, para guru, kepala sekolah dan karyawan. Mereka pun mencintai usaha dakwah yang diemban Al Banna dan bergabung dengan kafilah penegak kebenaran tersebut. Makanya pengikut dan teman seperjuangan Hasan Al-Banna semakin hari semakin bertambah menandakan bahwa gerakan dakwahnya itu memberikan manfaat nyata dalam kehidupan umat.
Kemudian suatu hal yang sangat mengagumkan berkaitan dengan kedisiplinan dalam mengajar adalah, “ Bila ada ikhwan (saudara) yang menelpon dirinya ketika sedang mengajar di kelas, kemudian petugas memberitahukan padanya. Maka beliau berpesan kepada petugas tersebut : “Katakan kepadanya, saya sedang mengajar dan tidak dapat meninggalkan kelas sebelum selesai jam pelajaran”. Subhannallah, begitulah komitmen Hasan Al-Banna dalam menunaikan tugas mulia ini dalam melahirkan kader bangsa.
— Bersambung…


Senin, 14 Maret 2016

Jihad fisabilillah

JIHAD FI SABILILLAH
Wavy Tail
Sebaliknya mereka yang meninggalkan jihad dan tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk berjihad akan hina dan menderita di dunia serta mendapatkan siksa Allah di neraka. Jihad adalah satu-satunya jalan bagi umat Islam untuk meraih kejayaan Islam, merdeka dari penjajahan dan meraih kembali tanah yang hilang.
Ketika umat Islam lalai terhadap kewajiban, maka Allah akan menghinakan mereka. Rasulullah saw. bersabda,” Jika kalian telah berdagang dengan ‘Inah (sistem riba’), mengikuti ekor-ekor sapi (sibuk beternak), rela bercocok tanam dan meninggalkan jihad, pasti Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali ke ajaran agama kalian.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi).
Imam Syahid Hasan al-Banna berkata: Sesungguhnya umat yang mengetahui bagaimana cara membuat kematian, dan mengetahui bagaimana cara meraih kematian yang mulia, Allah pasti memberikan kepada mereka kehidupan mulia di dunia dan keni’matan yang kekal di akhirat. Wahn (kelemahan) yang menghinakan kita tidak lain karena penyakit cinta dunia dan takut mati. Maka persiapkanlah jiwa kalian untuk amal yang besar, dan semangatlah menjemput kematian niscaya diberi kehidupan. Ketahuilah bahwa kematian adalah kepastian dan tidak datang kecuali satu kali. Jika engkau menjadikannya di jalan Allah, maka hal itu merupakan keuntungan dunia dan ganjaran akhirat.
Jihad secara bahasa berarti mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan secara istilah syari’ah berarti seorang muslim mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya untuk memperjuangkan dan meneggakan Islam demi mencapai ridha Allah SWT. Oleh karena itu kata-kata jihad selalu diiringi dengan fi sabilillah untuk menunjukkan bahwa jihad yang dilakukan umat Islam harus sesuai dengan ajaran Islam agar mendapat keridhaan Allah SWT.
Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata, “Yang saya maksud dengan jihad adalah; suatu kewajiban sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah saw.,” Siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau belum berniat berjuang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”.
Adapun urutan yang paling bawah dari jihad adalah ingkar hati, dan yang paling tinggi perang mengangkat senjata di jalan Allah. Di antara itu ada jihad lisan, pena, tangan dan berkata benar di hadapan penguasa tiran.
Dakwah tidak akan hidup kecuali dengan jihad, seberapa tinggi kedudukan dakwah dan cakupannya yang luas, maka jihad merupakan jalan satu-satunya yang mengiringinya. Firman Allah,” Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj 78).
Dengan demikian anda sebagai aktifis dakwah tahu akan hakikat doktrin ‘ Jihad adalah Jalan Kami’
Tujuan JihadJihad fi sabilillah disyari’atkan Allah SWT bertujuan agar syari’at Allah tegak di muka bumi dan dilaksanakan oleh manusia. Sehingga manusia mendapat rahmat dari ajaran Islam dan terbebas dari fitnah. Jihad fi sabilillah bukanlah tindakan balas dendam dan menzhalimi kaum yang lemah, tetapi sebaliknya untuk melindungi kaum yang lemah dan tertindas di muka bumi. Jihad juga bertujuan tidak semata-mata membunuh orang kafir dan melakukan teror terhadap mereka, karena Islam menghormati hak hidup setiap manusia. Tetapi jihad disyariatkan dalam Islam untuk menghentikan kezhaliman dan fitnah yang mengganggu kehidupan manusia. (QS an-Nisaa’ 74-76).
Macam-Macam JihadJihad fi Sabilillah untuk menegakkan ajaran Islam ada beberapa macam, yaitu:

Jihad dengan lisan, yaitu menyampaikan, mengajarkan dan menda’wahkan ajaran Islam kepada manusia serta menjawab tuduhan sesat yang diarahkan pada Islam. Termasuk dalam jihad dengan lisan adalah, tabligh, ta’lim, da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar dan aktifitas politik yang bertujuan menegakkan kalimat Allah.
Jihad dengan harta, yaitu menginfakkan harta kekayaan di jalan Allah khususnya bagi perjuangan dan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah serta menyiapkan keluarga mujahid yang ditinggal berjihad.
Jihad dengan jiwa, yaitu memerangi orang kafir yang memerangi Islam dan umat Islam. Jihad ini biasa disebut dengan qital (berperang di jalan Allah). Dan ungkapan jihad yang dominan disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah berarti berperang di jalan Allah.
Keutamaan Jihad dan Mati SyahidBeberapa ayat Alquran memberikan keutamaan tentang berjihad. Di antaranya, (QS an-Nisaa’ 95-96)(QS as-Shaff 10-13).
Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya: ”Amal apakah yang paling utama?” Rasul SAW menjawab: ”Beriman kepada Allah”, sahabat berkata:”Lalu apa?” Rasul SAW menjawab: “Jihad fi Sabilillah”, lalu apa?”, Rasul SAW menjawab: Haji mabrur”. (Muttafaqun ‘alaihi)
Dari Anas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Pagi-pagi atau sore-sore keluar berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia seisinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dari Anas ra bahwa nabi SAW bersabda: ”Tidak ada satupun orang yang sudah masuk surga ingin kembali ke dunia dan segala sesuatu yang ada di dunia kecuali orang yang mati syahid, ia ingin kembali ke dunia, kemudian terbunuh 10 kali karena melihat keutamaan syuhada.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Bagi orang yang mati syahid disisi Allah mendapat tujuh kebaikan:
1. Diampuni dosanya dari mulai tetesan darah pertama.
2. Mengetahui tempatnya di surga.
3. Dihiasi dengan perhiasan keimanan.
4. Dinikahkan dengan 72 istri dari bidadari.
5. Dijauhkan dari siksa kubur dan dibebaskan dari ketakutan di hari Kiamat.
6. Diletakkan pada kepalanya mahkota kewibawaan dari Yakut yang lebih baik dari dunia seisinya.
7. Berhak memberi syafaat 70 kerabatnya.” (HR at-Tirmidzi)
Hukum Jihad Fi SabilillahHukum Jihad fi sabilillah secara umum adalah Fardhu Kifayah, jika sebagian umat telah melaksanakannya dengan baik dan sempurna maka sebagian yang lain terbebas dari kewajiban tersebut. Allah SWT berfirman:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS at-Taubah 122).
Jihad berubah menjadi Fardhu ‘Ain jika:
1. Muslim yang telah mukallaf sudah memasuki medan perang, maka baginya fardhu ‘ain berjihad dan tidak boleh lari.
”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS al-Anfal 15-16).
2. Musuh sudah datang ke wilayahnya, maka jihad menjadi fardhu ‘ain bagi seluruh penduduk di daerah atau wilayah tersebut .
”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah 123)
3. Jika pemimpin memerintahkan muslim yang mukallaf untuk berperang, maka baginya merupakan fardhu ‘ain untuk berperang. Rasulullah SAW bersabda:
”Tidak ada hijrah setelah futuh Mekkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Dan jika kamu diperintahkan untuk keluar berjihad maka keluarlah (berjihad).” (HR Bukhari)
Kata-Kata JihadKhubaib bin Adi ra. berkata ketika disiksa oleh musuhnya, “Aku tidak peduli, asalkan aku terbunuh dalam keadaan Islam. Dimana saja aku dibunuh, aku akan kembali kepada Allah. Kuserahkan kepada Allah kapan saja Ia berkehendak. Setiap potongan tubuhku akan diberkatinya”.
Al-Khansa ra. berpesan kepada 4 anaknya mengantarkan mereka untuk jihad, “Wahai anak-anakku ! Kalian tidak pernah berkhianat pada ayah kalian. Demi Allah, kalian berasal dari satu keturunan. Kalianlah orang yang ada dalam hatiku. Jika kalian menuju ke medan perang, jadilah kalian pahlawan. Berperanglah ! Jangan kembali. Aku membesarkan kalian untuk hari ini”.
Abdullah bin Mubarak berkata pada saudaranya Fudail bin Iyadh yang sedang asyik ibadah di tahan suci,” Wahai ahli ibadah di dua tahan Haram, jika engkau melihat kami, niscaya engkau akan tahu bahwa engkau hanya bermain-main dalam ibadah. Barangsiapa membasahi pipinya dengan air mata. Maka, leher kami basah dengan darah”.
Demikianlah jihad adalah satu-satunya jalan menuju kemuliaan di dunia dan di akhirat. Ampunan Allah, surga Adn, Pertolongan dan Kemenangan. Wallahu a’lam bishawaab. []
Hal inilah yang membuat Islam berbeda dengan agama yang lain, dimana agama-agama yang lain tidak peduli dengan sesama, sementara Islam mensyariatkan agar semua orang selamat di hari kiamat oleh karena itulah maka dakwah adalah wajib hukumnya dan harus sekuat tenaga mendakwahkan Islam kepada semua orang dan jika perlu memerangi orang-orang yang menentang dan memusuhi Islam. Namun demikian jihad dalam Islam ada aturanya dimana non muslim di berikan pilihan
Memeluk Islam dengan sukarela
Tunduk kepada daulah Islamiyah
Option yang terakhir adalah perang
Harus diakui bahwa sekarang banyak sekali orang yang mengaku ulama tapi mereka takut untuk melakukan dakwah yang sesuai dengan anjuran Rasulullah yaitu menyebarkan Islam keseluruh penjuru bumi, sementara ulama pengecut ini malah mengeluarkan fatwa yang tidak Islami yaitu mereka menyatakan bahwa jihad adalah perang melawan hawa nafsu, memang sesuai dengan hadis nabi yang menyatakan bahwa Jihad terbesar adalah perang melawan hawa nafsu terutama menundukan diri sendiri untuk tunduk menerima Islam dan menjalankan syariat Islam termasuk menyebarkan Agama Islam ke seluruh penjuru Bumi walau apapun resikonya. Dan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap non muslim agar non muslim memeluk Islam dan selamat pada hari kiamat nanti.
Itulah jihad yang sebenarnya
Hidup ini adalah perjuangan dan perjuanganlah yang membuat kita hidup. Jihad fi sabilillah merupakan puncak ajaran Islam. Sehingga umat Islam yang melaksanakannya akan mendapatkan kemuliaan dan kejayaan di dunia dan surga Allah di akhirat.






Kamis, 16 Oktober 2014

kewajiban seseorang yang mendengarkan adzan



Sahari semalam, tidak kurang dari lima kalikita mendengar adzan. Tetapi, tahukan Anda, apa yang harus dilakukan ketika mendengarkan adzan?
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengajarkan supaya kita menjawab setiap lafal yang diucapkan oleh Mu’adzin. Demikianlah petunuk Nabi;
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Umar bin al-Khaththab dia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Jika seorang mu'adzin mengumandangkan adzan seraya berseru, 'Allahu akbar Allahu akbar, lalu salah seorang di antara kalian mengucap, 'Allahu akbar, Allahu akbar', kemudian mu'adzin berseru, 'Asyhadu an laa ilaha illallah, lalu dia berucap, 'Asyadu an laa ilaha illallah, kemudian mu'adzin melanjutkan, 'Asyhadu anna muhammadan Rasulullah', lalu dia mengucap, ''Asyhadu anna muhammadan Rasulullah', lalu mu'adzin berseru, 'Hayya ’ala shalah', dan dia membaca, 'laa haula wala quwwata illa billah', lalu mu'adzin berseru, 'Hayya ’alal-Falah' lalu dia menjawab, 'laa haula wala quwwata illa billah', kemudian mu'adzin berkata, 'Allahu akbar Allahu akbar', lalu dia menjawab, 'Allahu akbar Allahu akbar', kemudian mu’adzin mengucapkan, 'Laa ilaha illallah’, lalu dia menjawab, ' Laa ilaha illallah'. (Jika dia melakukan hal itu) dari hatinya, niscaya dia masuk surga". (HR Muslim)
Setelah selesai menjawab, ucapkanlah shalawat dan salam kepada beliau, sebagaimana diperintahkan oleh Nabi kita yang mulia.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ
Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda, "Apabila kalian mendengar mu'adzdzin mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, (HR Muslim)
Setelah membaca shalawat dan salam, bacalah do’a wasilah, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa berdo'a setelah mendengar adzan: Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan. Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat." (HR al-Bukhari)
Jika Anda laksanakan itu semua, Rasulullah menjanjikan akan memberikan syafa’atnya di hari kiamat kelak. Marilah kita laksanakan, semoga kita berhak mendapatkan syafa’at beliau... amin.