Sejarah mencatat dengan tintas emas seorang Guru mujahid
(pejuang) dan mujtahid (pembaharu) yang bernama Imam Syahid Hasan Al-Banna.
Beliau awalnya sebagai seorang guru madrasah di kampung halamannya di Negara
Mesir namun pemikiran dan keshalihannya bisa membangkitkan umat dari kelelapan
tidur yang panjang menuju cahaya Islam yang terang benderang. Semua ini,
diawali dengan program pendidikan yang terarah dan berkesinambungan dengan
pendekatan nurani. Hasilnya, murid dan pengikutnya tersebar di seluruh dunia
dan Imam Syahid Hasan Al-Banna dijadikan sebagai simbol kebangkitan Islam
dunia.
Riwayat Kelahiran Imam Hasan Al-Banna
Imam Hassan Al Banna lahir pada Oktober 1906 di desa al Mahmudiya
yang terletak di daerah Al Buhairah, Iskandariah, Mesir. Beliau berasal dari
sebuah
keluarga Ulama yang dihormati dan terkenal
karena begitu kuat menaati ajaran dan nilai-nilai Islam. Mujahid Islam ini
dibesarkan dalam suasana
keluarga yang Islami
dan hidupnya sangat sederhana. Sejak kecil Hasan Al-Banna dididik dalam rumah
tangga yang mementingkan pengembangan daya pikiran dan ilmu pengetahuaan.
Budaya membaca merupakan suatu hal yang dikembangkan ayah Al-Banna sehingga di
rumahnya terdapat perpustakaan yang lengkap berisi buku-buku berkualitas para
ulama-ulama besar dan pemikir-pemikir Islam sebelumnya.
Hassan Al Banna merupakan anak sulung dari lima bersaudara.
Ayahnya, Syeikh Ahmad ibn Abd al Rahman al-Banna adalah seorang ulama, imam,
guru dan pengarang beberapa buah kitab hadis dan fiqih perundangan Islam,
tamatan dari Universiti Al Azhar Mesir. Beliau dikenal sebagai seorang yang
bersopan santun, pemurah, rendah hati dan tingkah laku yang menarik. Ayah Hasan
Al-Banna bekerja sebagai tukang jam di desa al Mahmudiyah, untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya. Selebihnya ia gunakan untuk mengkaji, mendalami dan mengajar
ilmu-ilmu agama seperti tafsir al Quran dan hadis kepada penduduk di daerahnya.
Pendidikan Hasan Al-Banna
Sejak dini Hasan Al-Banna sudah ditempa oleh keluarganya
yang taat beragama untuk meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan
majelis ilmu. Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah Ar Rasyad, kemudian
melanjutkan di Madrasah ‘Idadiyah di kota Mahmudiyah tempat beliau dilahirkan.
Pada usianya yang masih muda, Hasan Al-Banna sudah memiliki
perhatian yang besar terhadap persoalan pendidikan dan dakwah. Beliaupun mampu
beraktivitas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bersama teman-temannya
di sekolah, dibentuklah perkumpulan “Akhlaq Adabiyah” dan “Al-Man’il
Muharramat”. Melalui perkumpulan inilah beliau menyuarakan kebenaran dan melawan
kebatilan. Kelihatannya memang sejak muda Hasan Al-Banna menginginkan sangat
dakwah Islamiyah tegak dan kokoh di persada negeri Mesir.
Pada tahun 1920 Hasan Al-Banna melanjutkan pendidikannya di
Darul Mu’allimin Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Al-Quran diusianya yang
belum genap 14 tahun. Beliaupun aktif dalam pergerakan melawan penjajah. Pada
tahun 1923 beliau melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo. Di sinilah
Hasan Al-Banna banyak mendapatkan wawasan yang luas dan mendalam. Pendidikannya
di Darul Ulum diselesaikan pada tahun 1927 M, dengan hasil yang sangat
memuaskan. Luar biasa, beliau menduduki rangking pertama di Darul Ulum dan
rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.
Semenjak di Darul Ulum Kairo, Hasan Al-Banna mendapatkan
cakrawala berfikir lebih luas dan wawasan yang mendalam dan semakin giat dalam
amal Islami. Bersama kawan-kawannya beliau melaksanakan dakwah di berbagai
tempat, di masjid, di perkumpulan-perkumpulan, kedai kopi ataupun di club-club
bahkan juga berdakwah di pasar atau tempat keramaian.
Hasan Al-Banna Sebagai Seorang Guru
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Kairo,
Hasan Al-Banna bekerja sebagai guru Ibtidaiyah (setingkat SD) di Ismailiyah.
Meskipun mendapatkan penawaran untuk melanjutkan pendidikan, namun beliau lebih
menyenangi menjadi guru di Ismailiyah hingga 19 tahun beliau berkhidmat
mengajar di sana.
Sebagai guru SD (Ibtidaiyah), beliau disiplin dalam
melaksanakan tugasnya. Dengan tanggung jawab penuh dan usaha maksimal, beliau
mengajar dan mendidik muridnya. Hasan Al-Banna belum pernah terlambat datang ke
sekolah (tempat kerja) karena beliau menyadari bahwa dirinyalah berperan
sebagai guru yang harus memberikan keteladanan. Melaksanakan tugas dengan tulus
ikhlas hingga beliau merasakan sebuah kenikmatan dan kebahagiaan dalam
hidupnya. Hasan Al-Banna meyakini bahwa Allah telah menciptakannya diri menjadi
seorang guru atau pendidik dalam melahirkan generasi yang tangguh untuk
kebangkitan Islam.
Hasan Al-Banna disenangi dan dihormati oleh murid-muridnya,
para guru, kepala sekolah dan karyawan. Mereka pun mencintai usaha dakwah yang
diemban Al Banna dan bergabung dengan kafilah penegak kebenaran tersebut.
Makanya pengikut dan teman seperjuangan Hasan Al-Banna semakin hari semakin
bertambah menandakan bahwa gerakan dakwahnya itu memberikan manfaat nyata dalam
kehidupan umat.
Kemudian suatu hal yang sangat mengagumkan berkaitan dengan
kedisiplinan dalam mengajar adalah, “ Bila ada ikhwan (saudara) yang menelpon
dirinya ketika sedang mengajar di kelas, kemudian petugas memberitahukan
padanya. Maka beliau berpesan kepada petugas tersebut : “Katakan kepadanya,
saya sedang mengajar dan tidak dapat meninggalkan kelas sebelum selesai jam
pelajaran”. Subhannallah, begitulah komitmen Hasan Al-Banna dalam menunaikan
tugas mulia ini dalam melahirkan kader bangsa.
— Bersambung…